Perkembangan Pemikiran Pendidikan Islam Klasik Sampai Kontemporer



BAB I
PENDAHULUAN

Ilmu  merupakan pengetahuan yang mempnyai karakteristik tertentu. Pengetahuan dapat diartikan secara luas yang mencakup segenap apa yang kita tahu tentang suatu objek.

Akan tetapi dalam perkembangan pemikiran pendidikan islam dari zaman rasulullah sampai sekarang tentu mengalami perubahan yang selalu berubah, oleh kerena itu dalam makalah ini dipaparkan sejarah perkembangan pendidikan islam dari klasik sampai kontemporer.
Harun  Nasution,  membagi  Sejarah  Perkembangan  Peradaban  Islam  ke  dalam tiga  periode yaitu [1] periode klasik [650-1250 M],  dibagi dalam dua Masa].  [2]    Periode pertengahan [1250 – 1800], dan [3] Periode Modern [1800 M]1.  Untuk periode modern akan dibicarakan pada bagian tersendiri.   Periode klasik ini dapat dibagi ke dalam dua masa, yaitu masa Kamajuan Islam I dan masa Disintegrasi.
      
BAB II
PERKEMBANGAN PEMIKIRAN PEDIDIKAN ISLAM DARI KLASIK SAMPAI KONTEMPORER

A. Sejarah Perkembangan Pemikiran Dan Peradaban Islam Pada Periode Klasik [650– 1800 M]

1.  Masa Kemajuan I [650 – 1000 M]
    Masa  ini  merupakan  masa  ekspansi,  integrasi  dan  keemasan  Islam.  Dalam  hal ekspansi,  sebelum  Nabi  Muhammad  wafat  di  tahun  632  M, seluruh Semenanjung Arabia telah tunduk di bawah kekuasaan Islam, dan ekspansi ke daerah-daerah di luar Arabia dimulai pada zaman Khalifah pertama Abu Bakar al-Siddik.

a. Masa Khulafa al-Rasyidin

    Dari  masa  khulafa  al-Rasidin  ini, ada beberapa hal yang perlu  diperhatikan, sebagai perkembangan pemikiran dan pedaban Islam, yaitu :

1)    Setelah Rasul wafat muncul sistem pemerintahan Islam yang disebut dengan Khalifah.
2)    Sistem pemelihan khalifah, yaitu : Abu Bakar dipilih melalui musyawarah,Umar ibn Khattab melalui wasiat dari Abu Bakar,Usman ibn Affan melalui  musyawarah enam orang sahabat untuk memilih, dan Ali ibn Abi Thalib dibaiat langsung oleh masyarakat Islam.

3)    Kemajuan dari aspek perluasan kekuasaan dan da’wah serta aspek peradaban Islam,
     Masa Dinasti Umayyah dan Abasiyah

        Pada  masa  ini  sistem  pemerintahan  Islam  tidak  lagi  berbetuk  khilafah  tetapi bernetuk kerajaan. Kekuasaan  diwariskan  secara  turun  temurun,  sehingga demokratis  berubah  menjadi monarchiheridetis [kerajaan  turun  temurun]. Dalam sejarah  perkembangan  Islam  ada  dua  kerajaan  besar  yang  sangat  popular  yaitu khilafah Bani Umayyah dan Bani Abasiyah.

1] Khilafah Bani Umayyah

       Memasuki  masa  kekuasaan  Muawiyah  menjadi  awal  kekuasaan  Bani  Umayyah dalam bentuk yang berbeda dengan masa  khilafah  rasyidin. Pemerintahan yang bersifat demokratis pada masa khilafah rasyidin berubah menjadi  monarchiheridetis [kerajaan  turun  temurun].Artinya,ada perubahan pemikiran  politik dalam sistem pemerintahan Islam.Sisi lain yang perlu dicermati adalah  kekhalifahan Muawiyah diperoleh melalui  kekerasan, diplomasi, tipu daya dan tidak melalui musyawarah dengan sistem pemilihan atau suara terbanyak.

Suksesi  kepemimpinan secara  turun temurun dimulai ketika Muawiyah mewajibkan seluruh  rakyat untuk menyatakan  setia terhadap  anaknya Yazid.Muawiyah  bermaksud  mencontoh  monarchi  ala Persia dan Bizantium. Walaupun  di  satu  sisi, Muawiyah tetap mempertahankan istilah  khalifah, namun  dia  memberikan  interpretasi  baru  dari  kata-kata  itu  untuk mengagungkan jabatan  tersebut. Muawaiyah  menyebutnya Khalifah  Allah dalam pengertian “penguasa” yang diangkat oleh Allah.

2]  Khilafah Bani Abbas

       Khilafah  Abbasiyah  melanjutkan  kekuasaan  dinasti  Bani  Umayyah.  Pendiri  dan penguasa  dinasti  ini  adalah  keturunan  al-Abbas  paman  Nabi  Muhammad  saw, sehingga dinamakan khilafah Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdulah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali  ibn Abdullah  ibn  al-Abbas dan kekuasaannya berlangsung  dalam  rentang  waktu  yang  panjang,  dari  tahun  132  H [750  M] sampai dengan  656 H [1258  M].

        Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik  dan agama  sekaligus. Kemakmuran  masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Pada  periode ini juga berhasil menyiapkan  landasan  bagi  perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan  dalam Islam.Namun setelah periode  ini berakhir, pemerintah dinasti Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.

B.  Perkembangan pemikiran dan  peradaban islam pada periode Pertengahan [1250 – 1800 m]
    Pada  mada  pertengahan  ini,  pembahasan  difokuskan pada faktor kemajuan, kemunduran, dan kehancuran khilafah Abbasiyah. Masa ini merupakan awal kemunduruan bagi  umat  islam, setelah  lebih  dari  lima  abad [132-656  H/750–1258  M] mampu membentuk dan mengembangkan kebudayaan Islam hingga mampu membawa  peradaban yang tinggi dan mengalami kejayaan dibawah pemerintahan daylat Abbasiyah.

Faktor-faktor Kemajuan
    Masyarakat  Islam  pada  masa  Abbasiyah  ini,  mengalami  kemajuan  ilmu pengetahuan yang sangat pesat yang dipengaruhi oleh dua factor :

1)    factor politik
Faktor politik yang mempengaruhi perkembangan dan kemajuan peradaban Islam, adalah sebagai berikut :[1] Pindahnya ibu kota negara dari Syam ke Irak dan Bagdad sebagai Ibu kotanya [146 H], 2] Banyaknya cendekiawan yang diangkat menjadi pegawai pemerintahan dan istana.

Khalifah-khalifah Abassiyah, misalnya Al Mansur, banyak mengangkat pegawai pemerintahan dan istana dari cendekiawan cendekiawan Persia, [3] Diakuinya Muktazilah sebagai mazhab resmi negara pada masa khalifah Al Ma’mum pada tahun 827 M. Mukhtazilah adalah aliran yang menganjurkan kemerdekaan dan kebebasan berpikir pada manusia.  Aliran ini telah berkembang dalam masyarakat terutama pada masa Dinasti Abassiyah I.

2) factor sosiografi


[1]  Meningkatnya kemakmuran umat Islam pada waktu itu.
[2]  Luasnya wilayah kekuasaan Islam menyebabkan banyak orang Persia dan Romawi  yang  masuk Islam kemudian menjadi muslim  yang taat,

[3] Pribadi beberapa khalifah pada masa itu, terutama pada masa Dinasti Abbasiyah I, seperti Al Mansur,Harun al Rasyid, dan Al Ma’mum yang sangat mencintai ilmu pengetahuan sehingga kebijaksanaanya banyak ditujukan kepada kemajuan ilmu pengetahuan.

[4] Selain  itu  semua,  menurut  Ahmad  Amin, karena permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam semakin kompleks dan berkembang. Maka, untuk mengatasi semua itu diperlukan  pengaturan,  pembukuan  dan  pembidangan  ilmu pengetahuan,khususnya ilmu-ilmu naqli yang terdiri dari ilmu agama, bahasa, dan adab.Adapun  ilmu  aqli, seperti  kedokteran, manthiq, dan  ilmu-ilmu  riyadhiyat, telah dimulai oleh umat Islam dengan metode yang teratur

3) aktivitas ilmiah antara lain seperti penyusunan buku-buku, penerjemahan buku Ilmiah, Pensyarahan.
4) kemajuan ilmu pengetahuan

     Aktivitas  ilmiah  yang dilakukan oleh kaum muslimin mengantarkan  mereka mencapai  puncak  kemajuan ilmu pengetahuan pada masa Abbasiyah.Penerjemahan yang  dilakukan  dengan giat menyebabkan  mereka  dapat menguasai  warisan intelektual  dari  tiga  jenis  kebudayaan, yaitu Yunani,

Persia, dan  India,  yang  pada akhirnya  kaum  Muslimin  mampu  membangun  kebudayaan ilmu,  baik  ilmu  agama maupun filsafat dan sains [ilmu  umum]. Fenomena  ini menarik  perhatian  para  ahli sejarah kebudayaan Islam  karena  sebagian besar orang  yang  berkecimpung  dalam  dunia  ilmu  pengetahuan  adalah  kaum  Mawaly [muslim  bukan  turunan  Arab  atau  bekas  budak], terutama  mereka  yang  berasal dari keturunan Persia.
Kemjuan ilmu pengetahuan itu antara lain :

1]  Kemajuan Ilmu Agama seperti ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu kalam dan ilmu fikih.
2]  Ilmu-ilmu Umum seperti filsafat, kedokteran, astronomi, ilmu pasti dan geografi
1.    Faktor-Faktor Penyebab Kemunduran
    Secara histories, ada beberapa faktor yang menyebabkan kemundurannya, yaitu :

1)    Konflik Keagamaan
       Konflik yang bernaung di bawah label keagamaan ini mempunyai beberapa latar belakang baik yang bersifat politik, seperti Syiah dan Khawarij, yang bercorak teologi seperti Muktazilah dengan Sunni, maupun yang cenderung untuk menyeleweng, seperti kaum zindik.

2)    Persaingan Antarbangsa
3)    Perebutan Kekuasaan di Kalangan Istana
4)    Lemahnya Kekeuatan Pusat
5)    Kemerosotan Ekonomi
3. Kemunduran dan Kehancuran  Peradaban Islam

1)    Faktor Internal
Munculnya pertentangan antara Arab dan non Arab,perselisihan antara muslim
dengan  non  muslim,  dan  perpecahan  di  kalangan  umat  Islam  sendiri  telah membawa  kepada  situasi  kehancuran  dalam  pemerintahan

2)    Faktor Eksternal
Sebelum  kedatangan  Hulagu Khan,  di  bagian  barat  wilayah  dinasti  Abbasiyah  telah terjadi  perang  salib.

C. Pemikiran Peradaban Islam Masa  Modern [1800 – sekarang]

1.  Masa Pembebasan dari Kolonial Barat

    Dunia Islam abad XX ditandai dengan kebangkitan dari kemunduran dan kelemahan secara budaya maupun politik setela kekuatan Eropa mendominasi mereka.Eropa bisa  menjajah karena keberhasilannya  dalam  menerapkan  strategi ilmu pengetahuan dan teknologi serta mengelola berbagai lembaga pemerintahan. Negeri-negeri Islam menjadi jajahan Eropa akibat keterbelakangan dalam berbagai aspek kehidupan. Pada  permulaan  abad ini tumbuh kesadaran nasionalisme hampir disemua negeri muslim yang menghasilkan pembentukan negara-negara nasional.

Tetapi persoalan mendasar yang dihadapi adalah keterbelakangan umat Islam, terutama menyangkut kemampuan menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat paling penting dalam mempertahankan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tanpa mengenyampingkan agama, politik dan ekonomi. Upaya  kearah  itu  tidak  lepas  dari  pembaharuan pemikiran yang dapat mengantarkan Islam terlepas dari cengkraman kolonialisme Barat.

D. Dunia Islam Abad XX

      Keunggulan-keunggulan Barat dalam bidang industri, teknologi, tatanan politik, dan militer tidak hanya menghancurkan pemerintahan negara-negara muslim yang ada pada waktu itu, tetapi lebih jauh dari itu, mereka bahkan menjajah negara-negara muslim yang ditaklukkannya, sehingga  pada penghujung abad XIX hampir tidak satu negeri muslim pun yang tidak tersentuh penetrasi kolonial Barat.

    Salah seorang tokoh yang pikirannya banyak mengilhami gerakan-gerakan kemerdekaan adalah Sayyed Jamaluddin Al Afghani. Ia dilahirkan pada tahun 1839 di Afghanistan dan meninggal di Istambul 1897.

Pemikiran dan pergerakan yang dipelopori Afghani ini disebut Pan-Islamisme, yang dalam pengertian luas berarti solidaritas antara seluruh umat muslim di dunia internasional. Tema perjuangan yang terus menerus dikobarkan  oleh Afghani dalam kesempatan apa saja adalah semangat melawan kolonialisme dengan berpegang kepada tema-tema ajaran Islam sebagai stimulasinya. Murtadha Muthahhari menjelaskan bahwa diskursus tema tema itu antara lain diseputar:

Perjuangan melawan absolutisme para penguasa; Melengkapi sains dan teknologi modern; Kembali  kepada  ajaran Islam  yang sebenarnya; Iman  dan  keyakinan  aqidah; Perjuangan melawan kolonial asing; Persatuan  Islam; Menginfuskan semangat perjuangan dan perlawanan kedalam tubuh  masyarakat Islam yang sudah separo  mati; dan Perjuangan melawan ketakutan terhadap Barat4.

    Disamping Afghani, terdapat dua orang ahli pikir Arab lainnya yang telah mempengaruhi  hampir  semua  pemikiran  politik  Islam  pada  masa  berikutnya. Dua pemikir itu adalah Muhammad Abduh(1849-1905) dan Rasyid Ridha(1865-1935). Mereka sangat dipengaruhi oleh gagasan-gagasan guru mereka yakni Afghani, dan berkat mereka berdualah pengaruh Afghani diteruskan untuk mempengaruhi perkembangan nasionalisme Mesir.

Seperti halnya Afghani dan Abduh, Ridha percaya bahwa Islam bersifat politis, sosial dan spiritual. Untuk  membangkitkan sifat-sifat  tersebut, umat Islam mesti kembali kepada Islam yang sebenarnya sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi dan para sahabatnya atau para salafiah.Untuk menyebarkan gagasan-gagasannya ini Ridha menuangkannya dalam bingkai tulisan-tulisan yang terakumulasi dalam majalah Al Manar yang dipimpinnya.

E. Pembebasan Diri dari Kolonial Barat

     Gerakan kemerdekaan yang dilakukan oleh umat Islam selalu kandas ketika berhadapan  dengan kolonialis Barat, tentu saja, karena teknologi dan militer mereka jauh lebih maju dari yang dimiliki umat Islam. Menurut Afghani, untuk menanggapi tantangan Barat, umat Islam harus mempelajari contoh-contoh darinya. Tentu saja tidak semua komunitas Islam sependapat dengan yang dimaksud belajar atau berguru kepada Barat. Para ulama tradisional tetap mempertahankan corak non-koperatifnya, sementara putra-putra negeri jajahan gelombang demi gelombang belajar kepada penjajah atau di sekolah-sekolah yang sengaja diadakan di negeri jajahannya.

    Dengan  demikian, terdapat dua kelompok pejuang kemerdekaan dengan basisnya masing-masing, ada  yang  sifatnya  non-koperatif yang basisnya lembaga-lembaga pendidikan agama-di Indonesia pesantren,sedang di Asia Tengah dan Barat serta Afrika basisnya pada kelompok-kelompok tarekat dan yang bercorak kooperatif yaitu pakar terpelajar dengan pendidikan Barat.

    Pada pertengahan pertama abad XX terjadi perang dunia kedua yang melibatkan seluruh negara kolonialis. Seluruh daratan Eropa dilanda peperangan, disamping Amerika, Rusia dan Jepang. Kecamuk perang ini disatu sisi melibatkan Jepang, Hitler dengan Nazi Jermannya, dan Mussolini dengan Fasis Italianya,dan disisi lain terdapat Inggris,

Perancis, dan Amerika yang bersekutu, serta Rusia. Konsekuensi atas terjadinya peperangan ini adalah terpusatnya konsentrasi kekuatan militer di kubu masing-masing negara, baik untuk keperluan ofensif maupun defensif. Pengkonsentrasian kekuatan militer tersebut mengakibatkan ditarik dan berkurangnya kekuatan militer kolonialis di negeri-negeri jajahan mereka.

    Dalam pada itu, negara muslim tidak terlibat langsung dalam perang duni  kedua sehingga pemikiran mereka waktu itu terkonsentrasi pada perjuangan untuk kemerdekaan negerinya masing-masing, dan kondisi dunia yang berkembang pada saat itu memungkinkan tercapainya cita-cita luhur tersebut. Mulai saa itu  negara-negara muslim yang terjajah memproklamirkan kemerdekaannya.

Usaha untuk memulihkan kembali kekuatan  Islam  pada  umumnya  yang dikenal  dengan gerakan pembaharuan didorong oleh dua faktor yang saling mendukung, yaitu pemurnian ajaran Islam dari unsur-unsur asing yang dipandang sebagai penyebab kemunduran Islam, dan menimba gagasan-gagasan pembaharuan dan ilmu pengetahuan dari Barat. Gerakan pembaharuan itu dengan segera juga memasuki dunia politik, karena Islam memandang tidak bisa dipisahkan dengan politik.

Gagasan politik yang pertama kali muncul adalah gagasan Pan-Islamisme yang mula-mula didengungkan oleh gerakan Wahabiyah dan Sanusiah. Namun, gagasan ini baru disuarakan dengan lantang oleh tokoh pemikir Islam terkenal,Jamaluddin Al Afghani [1839-1897 M]7. Jika di Mesir bangkit dengan nasionalismenya, dibagian negeri Arab lainnya lahir gagasan nasionalisme Arab yang segera menyebar dan mendapat sambutan hangat, sehingga nasionalisme itu terbentuk atas dasar kesamaan bahasa.

    Demikianlah yang terjadi di Mesir, Syria, Libanon, Palestina, Irak, Hijaz, Afrika Utara, Bahrein, dan Kuweit. Di India, sebagaimana di Turki dan Mesir gagasan Pan-Islamisme yang dikenal dengan gerakan Khilafat juga mendapat pengikut, pelopornya  adalah  Syed  Amir  Ali(1848-1928  M). Gagasan itu tidak mampu bertahan lama, karena terbukti dengan ditinggalkannya gagasan-gagasan tersebut oleh sebagian besar tokoh-tokoh Islam. Maka, umat Islam di anak benua India ini tidak  menganut nasionalisme, tetapi Islamisme yang dalam masyarakat India dikenal dengan nama komunalisme.

    Sementara di Indonesia, partai politik besar yang menentang penjajahan adalah Sarekat Islam [SI], didirikan pada tahun 1912 dibawah pimpinan HOS Tjokroaminoto. Partai ini merupakan kelajutan dari Sarekat Dagang Islam [SDI] yang didirikan oleh H.Samanhudi pada tahun 1911.Tidak lama kemudian, partai-partai  politik lainnya berdiri seperti Partai Nasional Indonesia [PNI] didirikan oleh Soekarno, Pendidikan Nasional Indonesia [PNI-Baru], didirikan oleh Muhammad Hatta [1931], Persatuan Muslimin Indonesia [PERMI] yang baru menjadi partai politik pada tahun 1932, dipelopori oleh Mukhtamar Luthfi.
 
    Munculnya gagasan nasionalisme yang diikuti dengan berdirinya partai-partai politik merupakan modal utama umat Islam dalam perjuangannya untuk mewujudkan  negara merdeka yang bebas dari pengaruh politik Barat, dalam kenyataannya, memang  partai-partai  itulah yang berjuang  melepaskan diri dari kekuasaan penjajah.  Perjuangan  mereka  biasanya teraplikasi dalam  beberapa bentuk  kegiatan,  seperti  gerakan  politik,  baik dalam bentuk diplomasi maupun dalam bentuk pendidikan dan propaganda yang tujuannya adalah mempersiapkan masyarakat untuk menyambut dan mengisi kemerdekaan.

    Adapun  negara berpenduduk  mayoritas  muslim  yang  pertama  kali  berhasil memproklamasikan kemerdekaannya  adalah  Indonesia, Negara  muslim  kedua  yang  merdeka  dari  penjajahan  adalah  Pakistan, yaitu tangga 15 Agustus 1947.

    Demikianlah satu persatu negara-negara muslim memerdekakan dirinya dari penjajahan.  Bahkan  beberapa  diantaranya  baru  mendapat  kemerdekaan  pada tahun-tahun terakhir, seperti negara-negara muslim yang dahulunya bersatu dalam Uni  Soviet,  yaitu  Uzbekistan, Turkmenia, Kirghistan, Kazakhstan, Tajikistan, dan Azerbaijan baru merdeka pada tahun 1992, serta Bosnia memerdekakan diri dari Yugoslavia pada tahun 1992.

    Namun, sampai saat ini masih ada umat muslim yang berharap mendapatkan otonomi  sendiri,  atau  paling  tidak  menjadi  penguasa  atas  masyarakat  mereka sendiri.  Mereka  itu  adalah  penduduk  minoritas  muslim  dalam  negara-negara nasional, misalnya Kasymir di India dan Moro di Filipina. Alasan mereka menuntut kebebasan  dan  kemerdekaan  itu  adalah  karena  status  minoritas  seringkali mendapatkan  kesulitan  dalam  memperoleh  kesejahteraan  hidup  dan  kebebasan dalam menjalankan ajaran agama mereka.

C. Perkembangan pemikiran dan  peradaban islam pada periode Pertengahan [1250 – 1800 m]
    Pada  mada  pertengahan  ini,  pembahasan  difokuskan pada faktor kemajuan, kemunduran, dan kehancuran khilafah Abbasiyah. Masa ini merupakan awal kemunduruan bagi  umat  islam, setelah  lebih  dari  lima  abad [132-656  H/750–1258  M] mampu membentuk dan mengembangkan kebudayaan Islam hingga mampu membawa  peradaban yang tinggi dan mengalami kejayaan dibawah pemerintahan daylat Abbasiyah.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari pemaparan makalah di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. Harun  Nasution,  membagi  Sejarah  Perkembangan  Peradaban  Islam  ke  dalam tiga  periode yaitu  periode klasik [650-1250 M], Periode pertengahan [1250 – 1800], dan Periode Modern [1800 M]1.

2. Perkembangan Pemikiran Dan Peradaban Islam Pada Periode Klasik [650– 1800 M. Masa  ini  merupakan  masa  ekspansi,  integrasi  dan  keemasan  Islam.  Dalam  hal ekspansi,  sebelum  Nabi  Muhammad  wafat  di  tahun  632  M, seluruh Semenanjung Arabia telah tunduk di bawah kekuasaan Islam, dan ekspansi ke daerah-daerah di luar Arabia dimulai pada zaman Khalifah pertama Abu Bakar al-Siddik.

3. Pemikiran Peradaban Islam Masa  Modern [1800 – sekarang].
Dunia Islam abad XX ditandai dengan kebangkitan dari kemunduran dan kelemahan secara budaya maupun politik setela kekuatan Eropa mendominasi mereka dengan membangkitkan rasa nasionalisme dalam meraih kemerdekaan dari penjajahan.


Daftar Pustaka

1. Ahmad  Amin,  1987,  Islam  dari  Masa  ke  Masa,     CV  Rusyda,  Cet.Pertama, Bandung.
2. A.Syalabi,1987, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Julid I, Cet. V, Pustaka Alhusna, Jakrta.
3. Aunur  Rahim  Faqih  dan  Munthoha,  1997,  Pemikiran  dan  Peradaban  Islam,  UII Press, Yogyakarta.
4. Badri  Yatim,    1999,  Sejarah  Peradaban  Islam,  Dirasah  Islamiyah  II,    PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Sumber : http://makalahkomplit.blogspot.com/2012/09/perkembangan-pemikiran-pedidikan-islam.html

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Perkembangan Pemikiran Pendidikan Islam Klasik Sampai Kontemporer"

Posting Komentar